KOMPAS.com -- Grandprix Thomryes Marth Kadja memang
luar biasa. Di usianya yang baru 24 tahun, mahasiswa S3 Kimia di
Institusi Teknologi Bandung ( ITB) ini memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia ( MURI) sebagai pemegang gelar doktor termuda dalam sejarah pendidikan Indonesia.
Catatan akademis pria yang terlahir di Kupang ini memang cemerlang.
Dia masuk SD pada usia lima tahun dan melanjutkan ke kelas akselerasi di
SMA sehngga sudah bisa masuk kuliah S1 di Usia 16 tahun.
Grandprix lalu menempuh pendidikan S1 Kimia di Universitas Indonesia
dan lulus di usia 19 tahun sebelum melanjutkan ke S2 Kimia di ITB dengan
beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU)
Kemenristekdikti.
Sebagai mahasiswa S3 Kimia di ITB, Grandprix mendedikasikan waktunya
untuk melakukan penelitian tentang zeolite sintesis, mekanisme, dan
peningkatan hierarki zeolit ZSM-5 di bawah bimbingan Dr. Rino Mukti, Dr.
Veinardi Suendo, Prof. Ismunandar, dan Dr. I Nyoman Marsih.
Dikutip dari siaran pers, Grandprix menjelaskan bahwa secara garis
besar, penelitiannya tersebut berfokus pada material yang banyak dipakai
di industri seperti petrokimia dan pengolahan biomassa.
Hasil penelitian tersebut kemudian dituangkan ke dalam disertasi yang
dipresentasikan di sidang terbuka pada hari ini, Jumat (22/09/2017).
Sidang terbuka Grandprix diselenggarakan pada hari ini, Jumat
(22/09/2017).
Pencapaian luar biasa ini tentunya tidak datang secara cuma-cuma.
Pria yang telah menerbitkan sembilan publikasi ilmiah berskala nasional
dan internasional ini berkata bahwa perjalanan penelitiannya tidak
selalu berjalan mulus. Proses yang sulit dan memakan waktu seringkali
menjadi kendala.
“Atau jika ada instrumen analisis yang tidak tersedia atau hasil penelitian yang tidak sesuai ekspektasi,” tambahnya.
Meski demikian, Grandprix tidak pernah menyerah. Kecintaannya
terhadap bidang yang ditekuninya ini membuat Grandprix tetap
menjalaninya dengan senang hati. Keberhasilannya dalam membuktikan
hipotesisnya pun menjadi kepuasan tersendiri.
Kepada para akademisi Indonesia, Grandprix berpesan, jangan minder
karena masih muda. Justru (yang muda) yang harus menjadi contoh bagi
orang lain.
Dia juga berharap agar program-program beasiswa seperti PMDSU dapat
diteruskan eksistensinya dan diperbesar skalanya untuk menjaring
peneliti dan doktor Indonesia dengan kemampuan dan daya saing kualitas
internasional.
Sumber : Kompas.com
Sumber : Kompas.com

